NGURI-URI LELUHUR: Merawat Warisan, Menjaga Akar Kehidupan di Punden Desa Gading

oleh
oleh
banner 468x60

 

Mojokerto. 10/4/2026 Tradisi luhur kembali digaungkan melalui kegiatan spiritual dan budaya bertajuk Nguri-uri Leluhur yang digelar di Punden Desa Gading, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, pada malam Jumat Pahing, 10 April 2026. Kegiatan ini menjadi wujud nyata pelestarian nilai-nilai budaya sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan sejarah dan kehidupan.

banner 336x280

Mengusung pesan mendalam, “Saat kamu merawat makam leluhurmu, sejatinya kamu sedang menyiapkan tempatmu kelak,” kegiatan ini tidak sekadar menjadi ritual seremonial, melainkan pengingat akan siklus kehidupan yang terus berputar dari generasi ke generasi.

Prosesi utama dalam kegiatan tersebut adalah pemasangan Payung Songsong Songgo Bawono di area punden yang diyakini sebagai makam leluhur desa. Ritual ini dipimpin oleh Ki Suryo Alam selaku pendiri Yayasan Sambung Roso Mojopahit, bersama Nyai Wali Idah Rofi yang dikenal sebagai tokoh spiritual dari Tanggulangin, Sidoarjo.

Menurut Ki Suryo Alam, pemasangan payung songsong tersebut merupakan simbol perlindungan dan penghormatan kepada arwah leluhur, sekaligus bentuk bakti kepada mereka yang telah membuka dan menjaga tanah kehidupan masyarakat saat ini.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bentuk rasa, bakti, dan kesadaran diri. Kita diingatkan untuk selalu eling lan waspada, bahwa hidup ini berawal dari leluhur dan akan kembali kepada generasi penerus,” ungkapnya.

Punden yang berada di lingkungan Balai Desa Gading ini dipercaya sebagai petilasan Mbah Rakuti, yang dikenal sebagai salah satu Dharma Putra di masa Kerajaan Majapahit, tepatnya pada era pemerintahan Raja Jayanegara.

Dalam catatan sejarah tutur yang disampaikan Ki Suryo Alam, Rakuti pernah melakukan pemberontakan terhadap Raja Jayanegara akibat ketidakpuasan terhadap kepemimpinan saat itu. Ia bahkan sempat menguasai Istana Majapahit di Balai Manguntur, meski kekuasaannya hanya berlangsung selama satu hari satu malam.

Pemberontakan tersebut akhirnya berhasil dipadamkan oleh pasukan Bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada, yang pada masa itu belum menjabat sebagai Patih Amangkubhumi. Rakuti pun gugur dalam peristiwa tersebut.
Kegiatan Nguri-uri Leluhur ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritual.

Nilai-nilai seperti nyawiji roso (menyatukan rasa), serta eling lan waspada (ingat dan waspada) menjadi pesan utama agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Dengan semangat pelestarian, masyarakat Desa Gading terus berkomitmen menjaga tradisi sebagai bagian dari identitas dan jati diri bangsa. Sebab, merawat leluhur sejatinya adalah merawat masa depan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.