SURABAYA – Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Wilayah Jawa Timur menggelar aksi massa di kawasan Grahadi dan DPRD Jawa Timur, Selasa (29/9/2026). Dalam aksi tersebut, KASBI Jatim mendesak pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan Undang-Undang (UU) Pelindungan Ketenagakerjaan yang berpihak kepada buruh. Desakan tersebut dilatarbelakangi persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi dalam dua tahun terakhir. KASBI Jatim menilai, banyak pekerja yang terdampak PHK belum mendapatkan hak pesangon, sementara penegakan hukum ketenagakerjaan dinilai belum berjalan secara adil dan efektif. Saat di temui awak media AGUNG SWASTIKO selaku kordinator lapangan(KORLAP), beliau menyebutkan jumlah korban PHK pada tahun ini telah mencapai 53 ribu orang. Organisasi buruh tersebut juga menyoroti belum optimalnya peran Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) di tingkat kabupaten, kota, hingga provinsi dalam menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan hukum ketenagakerjaan.ucapnya” Melalui aksi tersebut, KASBI Jatim menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Gubernur Jawa Timur dan Ketua DPRD Jatim agar aspirasi buruh diteruskan serta dikawal kepada pemerintah pusat dan DPR RI. Salah satu tuntutan utama adalah pembatasan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak. KASBI mengusulkan agar PKWT hanya diberlakukan untuk pekerjaan yang bersifat sementara dengan jangka waktu maksimal satu tahun. Selain itu, KASBI Jatim meminta pembatasan praktik alih daya atau outsourcing. Mereka menolak sistem labour supply dan mengusulkan agar alih daya hanya diperbolehkan untuk pemborongan pekerjaan tertentu ant perusahaan. Pekerja pada perusahaan penerima pemborongan tersebut juga diusulkan berstatus sebagai pekerja tetap atau PKWTT, khususnya untuk pekerjaan penunjang seperti cleaning service, keamanan, katering, serta pengemudi antar-jemput karyawan. KASBI juga menyoroti praktik

banner 468x60

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.