MOJOKERTO.26.5.2026 Ungkapan mendalam disampaikan salah satu jurnalis muda, Jeky Ridwan, terkait filosofi Jawa tentang Manunggaling Gusti Sejatinya.
Menurutnya, ajaran tersebut bukan sekadar warisan budaya leluhur, melainkan sebuah perjalanan batin manusia untuk mengenal jati diri dan mendekatkan hati kepada Sang Pencipta.
“Manunggaling Gusti sejatinya adalah saat manusia mampu menyatukan rasa, pikiran, dan perilaku dalam ketulusan menuju ridho Tuhan. Bukan soal kesaktian ataupun hal mistik semata, tetapi bagaimana manusia hidup dengan hati yang bersih, rendah hati, dan penuh welas asih,” ungkap Jeky Ridwan.
Dalam filosofi Jawa, konsep Manunggaling Kawula Gusti dimaknai sebagai hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, di mana manusia dituntut menjaga keseimbangan hidup, mengendalikan hawa nafsu, serta memperkuat laku batin agar mencapai ketenangan jiwa.
Jeky Ridwan menilai, nilai-nilai tersebut masih sangat relevan di tengah kehidupan modern saat ini. Menurutnya, manusia sering kali sibuk mengejar duniawi hingga melupakan kedamaian hati dan nilai kemanusiaan.
“Sejatinya hidup bukan tentang siapa paling kaya atau paling berkuasa, tetapi siapa yang mampu menjaga hati, menghormati sesama, dan selalu ingat kepada Gusti Allah,” tambahnya.
Filosofi Jawa juga mengenal konsep eling lan waspada, yakni selalu ingat kepada Tuhan dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Nilai ini menjadi pedoman agar manusia tidak mudah terjerumus oleh kesombongan, amarah, maupun kerakusan duniawi.
Lebih lanjut, Jeky Ridwan berharap generasi muda tidak melupakan kearifan lokal Nusantara yang sarat makna spiritual dan moral. Ia menilai budaya Jawa mengajarkan ketenangan, kebijaksanaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan alam sekitar.
“Kalau hati sudah menyatu dengan kebaikan, maka manusia akan menemukan rasa sejati dalam hidupnya. Di situlah makna manunggaling gusti sejatinya,” tutupnya.