MOJOKERTO — Dalam menjalani kehidupan, manusia sering kali disibukkan dengan urusan duniawi. Ada yang mengejar jabatan, kekayaan, kehormatan, dan kedudukan. Namun, di balik semua itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun, yakni kematian.
Tinggi atau rendah kedudukan seseorang, kaya ataupun miskin kehidupannya, pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada jabatan yang abadi, tidak ada harta yang bisa dibawa pergi, dan tidak ada manusia yang mampu menghindari datangnya ajal ketika waktunya telah tiba.
“Kita ini hanyalah calon jenazah yang sedang menunggu giliran untuk kembali kepada Sang Pencipta. Maka, selagi masih diberi kesempatan hidup, berbuat baiklah sebisa mungkin,” ungkap salah satu jurnalis Mojokerto, Jeky Ridwan.
Menurut pesan kehidupan tersebut, manusia hendaknya tidak menjadikan harta, pangkat, maupun kedudukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab, kemuliaan seseorang bukan semata-mata diukur dari apa yang dimiliki, melainkan juga dari bagaimana ia memperlakukan sesama.
Berbuat baik tidak harus menunggu menjadi kaya. Menolong tidak harus menunggu berlebihan. Bahkan, senyuman, perkataan yang santun, kejujuran, serta kepedulian terhadap orang lain merupakan bentuk kebaikan yang bisa dilakukan oleh siapa saja.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap saling menghormati, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga lisan, dan tidak merendahkan sesama menjadi nilai penting yang patut terus ditanamkan.
Waktu kehidupan pun tidak ada yang mengetahui secara pasti. Karena itu, jangan menunda kebaikan hanya karena merasa masih memiliki banyak waktu. Selagi masih bisa melangkah, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat. Selagi masih bisa berbicara, ucapkanlah kata-kata yang menyejukkan. Dan selagi masih diberi kesempatan, perbaikilah hubungan dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, yang kita tinggalkan bukanlah seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak harta yang pernah kita kumpulkan, melainkan kenangan, kebaikan, dan manfaat yang pernah kita berikan kepada orang lain.
Jeky Ridwan mengajak masyarakat untuk menjadikan kesadaran akan kematian sebagai pengingat agar senantiasa rendah hati, memperbanyak amal kebaikan, serta menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Sebab, hidup hanyalah sementara. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya.
Berbuat baiklah selagi masih hidup, tebarkan manfaat selagi masih mampu, dan jadilah manusia yang kehadirannya membawa kebaikan bagi sesama.
Karena kita semua sedang berjalan menuju akhir yang sama, maka jangan habiskan waktu untuk saling menjatuhkan. Gunakanlah waktu yang tersisa untuk saling menguatkan dan menebar kebaikan.
Jeky Ridwan
Jurnalis Mojokerto












