Mojokerto, 3/5/2025 – Dusun Seroyo, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, menyimpan potensi wisata religi yang sarat sejarah dan nilai spiritual tinggi. Di wilayah ini, berdiri kokoh sebuah kompleks makam yang dikenal masyarakat sebagai Makam Mbah Taslim, seorang tokoh penyebar agama Islam yang disegani di wilayah Mojokerto.
Makam Mbah Taslim terletak di dalam sebuah pendapa yang dibangun khusus, menampung pusara beliau beserta kerabat dekat dan beberapa muridnya. Di area utama, terdapat enam makam yang berjajar rapi: Mbah Taslim, Mbah Ishaq, Mbah Puger, Mbah Putri, Mbah Nur Aziza, dan Mbah Mustofa.
“Mbah Taslim tidak menikah. Jadi yang dimakamkan di sekitarnya adalah kerabat dekatnya,” ujar Ahmad, salah satu warga setempat yang juga pegiat sejarah lokal.
Di luar pendapa utama, terdapat puluhan makam lain yang diyakini sebagai murid-murid Mbah Taslim. Menariknya, tidak ada identitas tertulis di batu nisan makam-makam ini—menunjukkan kesan kesederhanaan dan ketawadhuan para pengikut sang sufi.
“Nama-nama tidak ditulis di batu nisan. Makam di luar itu adalah para murid atau pengikut beliau,” imbuh Ahmad.
Ahmad, pria berusia 65 tahun itu, menjelaskan bahwa Mbah Taslim datang ke Dlanggu sekitar tahun 1889. Di masa itu, ia mendirikan pesantren dan mengajar di sebuah musala panggung—menjadikannya sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam. Mbah Taslim dikenal sebagai seorang tokoh sufi atau ahli tasawuf yang hidup dalam kesederhanaan, namun berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam di wilayah tersebut.
“Dulu hanya ada gubuk kecil. Tahun 2017, makamnya direnovasi dan kini bernuansa Majapahitan, dengan bata merah dan pagar khas budaya lokal,” jelas Ahmad.
Keberadaan makam ini bukan hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga menjadi simbol penghormatan atas perjuangan dakwah Islam di Mojokerto. Mbah Taslim dianggap sebagai tokoh yang ‘mbabah’ (membuka jalan) bagi Dusun Seroyo, yang dahulu dianggap ‘gelap’ sebelum kedatangan beliau.
Hingga kini, Makam Mbah Taslim ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah, khususnya saat malam Jumat atau pada bulan-bulan tertentu dalam penanggalan Islam.(jekyridwan)