Slametan, Warisan Leluhur yang Menjaga Harmoni dan Keselamatan Hidup Masyarakat Jawa

MOJOKERTO.22/2/2026Di tengah arus modernisasi, tradisi slametan atau selamatan tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya paling kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa. Upacara sederhana yang diisi doa bersama dan pembagian makanan ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol keseimbangan, kerukunan, dan harapan akan keselamatan hidup.
Pengertian Slametan
Slametan berasal dari kata “slamet” yang berakar dari bahasa Arab salāmah, berarti keselamatan. Dalam pemahaman masyarakat Jawa, makna keselamatan jauh lebih luas: bukan hanya terbebas dari bahaya fisik, tetapi juga keadaan batin yang ayem, tenteram, tidak resah, dan selaras dengan lingkungan sekitar.
Bagi orang Jawa, hidup yang slamet adalah hidup yang seimbang—tidak gaduh, tidak berlebihan, dan berjalan harmonis bersama sesama.
Tiga Tujuan Utama Slametan
1. Memohon Keselamatan
Slametan menjadi sarana memanjatkan doa kepada Gusti agar diberikan kelancaran, perlindungan, dan keberkahan. Doa dalam slametan disampaikan dengan cara yang halus, tenang, dan penuh kesadaran, mencerminkan karakter spiritual masyarakat Jawa yang lembut dan mendalam.
2. Melestarikan Kerukunan
Tradisi ini mengumpulkan tetangga dan kerabat dalam suasana setara. Semua duduk melingkar tanpa jarak, tanpa perbedaan status. Dalam falsafah Jawa, kerukunan lebih utama daripada memenangkan perdebatan. Slametan menjadi ruang sosial yang memperkuat persaudaraan dan mencegah konflik.
3. Menjaga Keseimbangan Kehidupan
Dalam kosmologi Jawa, kehidupan harus selaras antara manusia dengan Gusti, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Slametan menjadi sarana menjaga keseimbangan tersebut agar kehidupan tidak timpang dan tetap tenteram.
Dilaksanakan pada Momen Penting Kehidupan
Slametan hadir dalam berbagai fase kehidupan, seperti:
Kelahiran bayi (brokohan, sepasaran, selapanan)
Mitoni (tujuh bulan kehamilan)
Pernikahan
Pindah rumah
Panen
Doa kematian (3, 7, 40, 100, 1000 hari)
Bersih desa
Awal usaha atau hajatan
Setiap momen memiliki susunan dan perlengkapan berbeda, namun inti doa dan kebersamaannya tetap sama.
Tata Cara yang Sederhana Namun Penuh Makna
Secara umum, slametan dilakukan dengan pola berikut:
Tuan rumah menyiapkan ubo rampe dan makanan.
Mengundang tetangga, biasanya laki-laki dewasa sebagai wakil keluarga.
Duduk melingkar di atas tikar.
Sambutan singkat dari tuan rumah.
Doa dipimpin tokoh agama atau sesepuh.
Pembagian makanan untuk dibawa pulang sebagai berkat.
Ciri khas slametan adalah kesederhanaannya. Tidak ada kemewahan atau pamer, karena inti slametan terletak pada doa dan kebersamaan.
Ubo Rampe dan Filosofinya
Beberapa perlengkapan yang umum dalam slametan antara lain:
Tumpeng
Berbentuk kerucut, melambangkan hubungan vertikal manusia dengan Gusti serta harapan yang naik ke atas. Tumpeng adalah simbol kesadaran akan asal dan tujuan hidup.
Ingkung
Ayam utuh yang dimasak melambangkan kepasrahan total kepada kehendak Gusti serta kesatuan lahir dan batin.
Jajan Pasar
Menggambarkan keanekaragaman kehidupan dan rasa syukur atas rezeki yang sederhana.
Berkat
Makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang sebagai simbol bahwa doa dan kebaikan dibagikan kepada semua, tidak berhenti di satu rumah saja.
Makna simbolik dalam slametan bukan unsur klenik, melainkan filosofi sosial dan spiritual yang diwariskan turun-temurun.
Fungsi Sosial yang Kuat
Secara sosial, slametan berperan penting dalam:
Menguatkan hubungan antar tetangga
Mengurangi potensi konflik
Menjaga solidaritas
Membentuk rasa memiliki terhadap komunitas
Di dalam budaya Jawa, ketenteraman bersama lebih utama daripada kepentingan pribadi. Slametan menjadi ruang pertemuan yang lembut—tanpa debat, tanpa gaduh—namun penuh makna dan penghormatan.
Tetap Lestari di Era Modern
Meski zaman berubah, slametan masih lestari di berbagai desa maupun kota di Jawa. Bentuknya mungkin lebih sederhana, tetapi esensinya tetap sama: doa bersama dan menjaga kerukunan.
Slametan bukan sekadar ritual turun-temurun. Ia adalah sistem sosial budaya yang mengikat masyarakat dengan cara halus, tenang, dan penuh tata krama—mengajarkan bahwa keselamatan sejati lahir dari harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam sekitarnya.
Ki wiro kadek
