Khotmil Qur’an dan Doa Bersama ke-20 di Dusun Banjarsari, Tradisi Religius Warga Terus Terjaga

Oplus_131072
MOJOKERTO.4/1/2026radisi keagamaan masyarakat Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terus terawat dengan penuh kekhidmatan. Hal tersebut tampak dalam pelaksanaan Khotmil Qur’an dan Doa Bersama ke-20 yang digelar pada Minggu siang (4/1/2025).
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan pada minggu pertama ini berlangsung di aula terbuka Makam Umum Dusun Banjarsari. Lokasi tersebut juga dikenal sebagai kompleks makam Eyang Temenggung Soekarto Widjoyono atau yang akrab disebut masyarakat setempat sebagai Mbah Sentono, tokoh leluhur yang dihormati warga.
Sejak awal acara, suasana religius dan penuh kekhusyukan begitu terasa. Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tahlil, sholawatan mahalul qiyam, kenduri tumpeng, hingga tausiyah agama. Seluruh rangkaian berlangsung sederhana, namun sarat makna dan nilai spiritual.
Konsistensi warga dalam menjaga tradisi ini menjadi cerminan kuatnya nilai kebersamaan, gotong royong, serta semangat religius masyarakat Dusun Banjarsari. Meski tanpa kemewahan, kegiatan Khotmil Qur’an dan doa bersama tersebut terus berjalan tanpa jeda hingga kini memasuki pelaksanaan yang ke-20.
Perwakilan Sholawat Al-Haddad Djawa Dwipa, Ustadz Abd. Mukhit, menyampaikan rasa syukur atas istiqomahnya kegiatan tersebut. Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang selama ini turut menjaga keberlangsungan acara.
“Alhamdulillah, kegiatan ini bisa istiqomah sampai yang ke-20. Terima kasih kepada Mas Hadi Purwanto yang senantiasa memberikan dukungan dalam syiar agama dan akomodasi rutinan Khotmil Qur’an,” ujarnya.
Ustadz Abd. Mukhit berharap seluruh jamaah yang hadir senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan iman, serta keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam. Ia juga menyebutkan bahwa dalam empat bulan ke depan, kegiatan ini akan genap berjalan selama dua tahun.
“Tidak terasa sudah hampir dua tahun. Jika sesuatu dijalani dengan keikhlasan dan dinikmati, waktu terasa cepat berlalu. Sebaliknya, jika tidak dinikmati, sebentar pun akan terasa lama,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kehadiran para jamaah merupakan panggilan hati dan kehendak Allah SWT, tanpa adanya paksaan. Ia mencontohkan semangat para jamaah sepuh, seperti Mbah Sumantri, yang meskipun telah lanjut usia tetap istiqomah menghadiri Khotmil Qur’an.
“Dalam ukhuwah Islamiyah, yang pertama kali ditanyakan bukan harta atau jabatan, tetapi bagaimana iman dan ibadah kita,” tegasnya.
Kegiatan ini diharapkan terus menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus menjaga warisan tradisi keagamaan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Dusun Banjarsari.
Editor:jekyridwan
