Jurnalis Mojokerto Ungkap Makna Menemani: “Saya Berhasil Menemaninya, Hingga Ia Tak Membutuhkan Saya Lagi

Oplus_131075
Mojokerto.17/1/2026 Sebuah ungkapan reflektif dari salah satu jurnalis asal Mojokerto, Ridwan, menyita perhatian publik. Dalam pernyataannya, Ridwan menyampaikan kalimat sederhana namun sarat makna tentang peran, keikhlasan, dan kehilangan dalam proses mendampingi seseorang.
Aku berhasil menemaninya, sampai dia tidak membutuhkan aku lagi,” ujar Ridwan dengan nada tenang, namun menyimpan emosi yang dalam.
Ungkapan tersebut bukan sekadar kisah personal, melainkan gambaran perjalanan panjang tentang dedikasi dan pengorbanan. Ridwan dikenal sebagai jurnalis yang kerap menulis isu-isu kemanusiaan dan sosial. Kali ini, ia justru menjadi subjek dari cerita yang sangat manusiawi: tentang hadir sepenuhnya dalam hidup seseorang, lalu belajar untuk mundur ketika peran itu usai.
Menurut Ridwan, menemani bukan berarti memiliki, dan membantu bukan berarti harus selalu dibutuhkan. “Ada fase di mana tugas kita hanya memastikan seseorang bisa berdiri sendiri,” tambahnya.
Pernyataan itu menuai respons luas, terutama di kalangan jurnalis dan pembaca muda. Banyak yang menilai ungkapan tersebut merepresentasikan realitas hubungan—baik persahabatan, cinta, maupun kerja—di mana keikhlasan diuji ketika peran kita tak lagi diperlukan.
Di tengah dunia yang sering menuntut pengakuan, Ridwan justru mengingatkan bahwa keberhasilan sejati terkadang hadir dalam diam: ketika seseorang yang pernah kita dampingi akhirnya mampu melangkah tanpa kita.
Berita ini menjadi pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua perjuangan berakhir dengan kebersamaan—sebagian berakhir dengan keikhlasan.
