Belajar dari Luka: Ketika Arti Pertemanan Diuji oleh Kepentingan dan Harta

Oplus_131107
Mojokerto. 23/2/2026 Sebuah ungkapan hati datang dari seorang insan yang tengah merenungi makna pertemanan dalam perjalanan hidupnya. Ia mengaku, selama ini mengira semua teman adalah baik dan tulus. Namun kenyataan yang dihadapi justru membuka pandangan baru tentang arti sebuah hubungan.
“Saya kira semua teman itu baik. Ternyata saling mementingkan pribadinya, apalagi tentang harta. Baru sekarang saya benar-benar menilai apa arti sebuah teman,” ungkapnya dengan nada reflektif.
Pengalaman pahit itu dirasakan ketika dirinya berada di titik terendah kehidupan. Saat terjatuh dan membutuhkan uluran tangan, tak banyak yang hadir memberi dukungan. Dari situlah ia menyadari bahwa tidak semua yang berjalan bersama di saat senang, akan tetap bertahan di saat sulit.
Menurutnya, harta dan kepentingan sering kali menjadi ujian terbesar dalam sebuah persahabatan.
Hubungan yang terlihat akrab bisa berubah renggang ketika menyentuh persoalan materi. Situasi tersebut membuatnya belajar bahwa teman sejati bukan sekadar hadir saat tawa mengiringi, tetapi juga setia ketika air mata jatuh.
Meski merasa kecewa, ia memilih untuk tidak menyimpan dendam. Baginya, pengalaman ini adalah pelajaran berharga untuk lebih selektif dalam mempercayai orang dan lebih kuat menghadapi kehidupan.
“Kini saya belajar, ketika jatuh jangan berharap pada banyak orang. Cukup percaya pada diri sendiri dan kepada Tuhan. Dari situ saya bangkit perlahan,” tambahnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa arti pertemanan sejati terletak pada ketulusan, bukan kepentingan.
Dalam hidup, mungkin tidak semua orang akan bertahan di sisi kita. Namun dari setiap luka, selalu ada pelajaran yang menguatkan langkah ke depan.(jekyridwan)
