Ki Wiro Kadek, Spiritual Asal Mojokerto: Jangan Dekati Lagi Orang yang Pernah Berbuat Jahat, Ular Tetaplah Berbisa

0
IMG-20260214-WA0195(1)

 

 

MOJOKERTO.15/2/2026 Tokoh spiritual asal Mojokerto, Ki Wiro Kadek, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga diri dari orang-orang yang pernah berbuat jahat.
Melalui ungkapan penuh makna, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah kembali mempercayai seseorang yang telah menyakiti, meskipun orang tersebut telah meminta maaf.

 

Menurut Ki Wiro Kadek, memaafkan adalah bentuk kebijaksanaan dan kemuliaan hati. Namun demikian, memaafkan tidak selalu berarti harus kembali membuka ruang yang sama seperti sebelumnya.

 

“Sebaik-baiknya kita, jangan pernah dekati lagi orang yang berbuat jahat kepada kita, walaupun dia sudah meminta maaf. Ingat, ular tetaplah ular, walaupun sudah berganti kulit, dia tetap berbisa,” ungkap Ki Wiro Kadek.

Ia menjelaskan, perumpamaan ular yang berganti kulit memiliki makna filosofi mendalam. Pergantian kulit hanya menunjukkan perubahan luar, namun sifat dasar tetap ada. Hal tersebut menjadi simbol bahwa seseorang bisa saja berubah secara penampilan atau sikap luar, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.

Ki Wiro Kadek juga menambahkan bahwa pengalaman hidup adalah guru terbaik. Luka dan pengkhianatan yang pernah dialami hendaknya menjadi pelajaran berharga agar seseorang lebih bijak dalam memilih lingkungan dan pergaulan.

“Bukan berarti kita harus membenci, tetapi kita harus menjaga diri. Memaafkan adalah untuk ketenangan hati kita, sedangkan menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri,” tambahnya.

 

Pesan spiritual ini mendapat perhatian luas dari masyarakat, khususnya mereka yang sedang menghadapi konflik, pengkhianatan, atau luka batin. Banyak yang menilai ungkapan tersebut sebagai pengingat agar tetap berhati baik, namun tidak mengabaikan kewaspadaan.

 

Ki Wiro Kadek berharap, masyarakat dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa kehidupan, memperkuat diri secara batin, serta tetap melangkah maju tanpa terikat oleh masa lalu yang menyakitkan.
“Hidup adalah perjalanan menuju kedewasaan. Jangan biarkan luka yang sama terjadi dua kali, karena kebijaksanaan lahir dari pengalaman,” pungkasnya.

Redaksi jekyridwan

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *