82 Kilometer Saluran Irigasi di Jombang Dinormalisasi, PUPR Kebut Cegah Banjir

0
IMG-20260223-WA0241

 

JOMBANG –
Ancaman banjir saat musim penghujan di Kabupaten Jombang disikapi serius. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Jombang melakukan normalisasi saluran irigasi sepanjang 82.354 meter atau sekitar 82 kilometer.

Langkah ini dilakukan melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) dengan menyasar 55 titik saluran irigasi yang tersebar di sejumlah wilayah.

Plt Kepala Dinas PUPR Jombang, Bustomi, mengatakan normalisasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi saluran yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan tumpukan material.

“Total ada 55 titik yang sudah kami normalisasi dengan panjang keseluruhan 82.354 meter. Ini bagian dari upaya pengendalian banjir sekaligus menjaga fungsi irigasi,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (21/2/2026).

Salah satu lokasi yang menjadi fokus pekerjaan adalah Saluran Sekunder Menganto di Desa Tugu Sumberejo, Kecamatan Peterongan. Di titik tersebut, pengerukan sedimentasi dilakukan menggunakan alat berat sepanjang 600 meter.

Pendangkalan yang terjadi sebelumnya membuat kapasitas tampung air berkurang dan memicu luapan saat intensitas hujan tinggi.

“Normalisasi ini tidak hanya untuk pengendalian banjir, tetapi juga memastikan distribusi air irigasi ke lahan pertanian berjalan lancar,” tegas Bustomi.

Dengan saluran yang kembali optimal, aliran air diharapkan lebih lancar dan tidak lagi meluap ke permukiman warga saat debit meningkat.

Tak hanya mengeruk saluran, PUPR Jombang juga merampungkan rehabilitasi empat unit bendung. Perbaikan difokuskan pada optimalisasi bangunan pengambilan air agar pengaturan debit dan pembagian air ke jaringan irigasi lebih stabil, terutama menjelang dan saat musim tanam.

Pekerjaan meliputi perbaikan retakan, penanganan kebocoran, hingga penguatan tebing saluran. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan kehilangan air dan meningkatkan efisiensi distribusi.

“Kami ingin fungsi bangunan pengairan tetap maksimal, sehingga air bisa dibagi merata dan tidak terbuang sia-sia,” jelasnya.

Bustomi menegaskan, seluruh program normalisasi dan rehabilitasi infrastruktur SDA ini diarahkan untuk dua tujuan besar: mengurangi risiko banjir dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menurutnya, infrastruktur pengairan yang terawat akan berdampak langsung pada produktivitas pertanian dan perlindungan wilayah dari genangan.

“Kami berupaya menjaga fungsi infrastruktur SDA tetap optimal agar manfaatnya langsung dirasakan petani dan masyarakat,” pungkasnya.

(Budiono**)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *